How do Generation Z students truly experience diversity in an increasingly polarized society? Is polarization merely ideological, or is it a deeper emotional struggle embedded in their daily lives? This article reveals that multicultural awareness is not just a civic value but a lived reality—negotiated in boarding houses, worship spaces, and the emotionally charged world of social media. What strategies do young people adopt—selective silence, content curation, or reflective restraint—to navigate these tensions? The findings highlight emotional literacy as a vital key to sustaining pluralism in fragmented digital societies. For scholars of communication, politics, education, and youth studies, this article offers essential insights worth reading and citing.
Bagaimana sebenarnya Generasi Z merasakan keberagaman di tengah masyarakat yang kian terpolarisasi? Apakah polarisasi hanya soal ideologi politik, ataukah lebih dalam: sebuah pergulatan emosional dalam keseharian mereka? Artikel ini mengungkap bahwa multikulturalisme tidak berhenti pada slogan, tetapi hidup dalam pengalaman nyata mahasiswa: di kos-kosan, ruang ibadah, hingga media sosial yang sering kali melelahkan secara emosional. Lalu, strategi apa yang dipakai anak muda untuk bertahan—diam selektif, kurasi konten, hingga refleksi etis? Temuan ini menantang kita untuk memikirkan kembali bagaimana literasi emosional dapat menjadi kunci menjaga pluralisme di era digital. Jika Anda meneliti komunikasi, politik, pendidikan, atau studi generasi, artikel ini adalah rujukan penting untuk dipahami dan disitasi.Link Artikel :
Experiencing Multicultural Awareness and Affective Polarization: A Phenomenological Inquiry
APA 7th Edition Citation Style:
Anshori, M., & Surwati, C. (2025). Experiencing multicultural awareness and affective polarization: A phenomenological inquiry. Jurnal ASPIKOM, 10(1), 1-18. doi:http://dx.doi.org/10.24329/aspikom.v10i1.1620


Comments
Post a Comment