Journalism today struggles with shrinking revenues, disengaged audiences, and fading authority. Many newsrooms pin their hopes on digital convergence—merging platforms, products, and technologies to stay alive. But moving online doesn’t magically solve the problem. Behind the screens, media routines, limited multimedia skills, and technical barriers weigh heavier than the promise of “just going digital.”This study examines how three online media construct their news frames, applying Teun Van Dijk’s framing model and testing it against the idea of contextualized journalism—the very core of what online journalism should be. The findings reveal how deeply production culture shapes the way news is framed in the digital age.
Jurnalisme hari ini menghadapi krisis: pendapatan dari sirkulasi dan iklan menurun, audiens makin abai membaca, dan otoritas media kian memudar. Banyak redaksi berharap pada strategi konvergensi—menggabungkan produk, institusi, dan teknologi komunikasi—untuk bertahan hidup. Namun, sekadar hadir di ruang digital ternyata tidak otomatis menyelesaikan masalah. Di balik layar, rutinitas kerja media, keterampilan multimedia yang terbatas, serta hambatan teknis dalam produksi berita justru lebih rumit daripada sekadar mempublikasikan berita di internet.Riset ini menelaah bagaimana tiga media online membingkai pemberitaannya dengan menggunakan model framing Teun Van Dijk, sekaligus menguji konsep jurnalisme kontekstual sebagai inti dari jurnalisme online. Hasilnya memperlihatkan bahwa budaya produksi di ruang redaksi berperan besar dalam membentuk konstruksi berita di era digital.
APA 07 Citation Style:
Anshori, M. (2012). Jurnalistik Online Indonesia: Analisis Framing Tiga Portal Berita Online di Indonesia. Jurnal Komunikasi, 5(2), 129–144. Retrieved from https://journal.uii.ac.id/jurnal-komunikasi/article/view/6856

Comments
Post a Comment